Setelah melihat theme blog ini, aduh ada sesuatu yang menggelitik pikiran saya dengan penampilan headnya. Gambar tumpukan buku-buku lawas. Hal itu mengingatkan pada buku-buku kakek atau orang tua saya yang numpuk di almari. Buku-buku itu dalam peristilahan pesantren disebut sebagai ‘Kitab Kuning’. Istilah kitab kuning berasal dari dua kata kitab dan kuning. Kitab berasal dari Bahasa Arab berarti buku. Kuning berarti warna kuning. Dengan demikian Kitab Kuning diartikan sebagai buku yang berwarna kuning. Mengapa disebut kitab kuning?. Dalam guyonan K.H. Muhidz Muzadi “Ya karena memang kitab-kitabe mbahe, saking lamanya akhirnya berwarna kuning”. Buku-buku yang disebut kitab kuning ini biasanya dikarang pada zaman pertengahan. Warna kuning ada kemungkinan teknologi pembuatan kertas zaman dulu memang sampai pada warna ini. Dalam mithos pesantren warna kuning menjadikan mata tidak sakit ketika membacanya. Hal ini mungkin belum ada penelitian dari fisiologi. jika demikian maka yang diperlukan adalah penelitian yang mendalam tentang hal ini terutama ahli bidang fisiologi.
Dalam budaya pesantren kitab kuning ini dijadikan buku acuan dalam sistem pengajaran. sistem pengajaran yang melibatkan kitab kuning ini sangat variatif. metode bandongan (halaqah)misalnya; metode ini dilakukan dengan cara seorang guru (kyai) membaca satu kitab kuning dengan siswa (santri) melingkarinya. Dalam metode ini dianjurkan santri membuat catatan-catatan kecil disela-sela baris kitab kuning. Anjuran ini tampak dalam statemen para kyai yang mengatakan “petenge kitab padange ati”.
Kitab Kuning
Filed under Uncategorized